fbpx

Kisah Sukses Membangun Startup Hingga Unicorn

membangun-startup-tokopedia

Pernah terpikir bagaimana jika Anda membangun startup? Ketika membicarakan startup, tentunya kita tidak bisa melupakan perusahaan perintis yang kini telah bertitle Unicorn, yaitu Tokopedia. Perusahaan berlogo burung berwarna hijau ini menjadi e-commerce terbesar di Indonesia.

Didirikan pada 2009, Tokopedia tak langsung meraup sukses. Baru pada 2014 lah, aplikasi jual-beli online ini mulai dilirik publik.

Di balik nama besar Tokopedia, tentu tak luput dari pendirinya yaitu William Tanuwijaya. Akibat kesuksesannya dalam membangun startup unicorn ini, Ia digenpur dengan sejumlah penghargaan bergengsi. Salah satunya Entrepreuneur of The Year dari Ernst & Young pada tahun 2019.

Dengan kerja kerasnya, Tokopedia bisa meraup keuntungan yang mencapai lebih dari ratusan triliun rupiah setiap bulannya. Tak hanya itu, William juga berhasil membawa nama Indonesia di kancah internasional dengan meluncurkan aplikasi ini di berbagai negara lain.

Kesuksesannya merintis aplikasi e-commerce tidak selalu mulus, bahkan di awal perjalanannya, Ia sempat tak dipercaya investor. Simak perjalanan karir dari sang bos Tokopedia membangun startup dari nol berikut ini.

Perjalanan Karir William Tanuwijaya

Lahir pada 1981, perjalanan karir William sebagai CEO sekaligus Founder Tokopedia tak semudah yang dibayangkan. Ia lahir dari keluarga sederhana yang bertempat tinggal di kota kecil.

1. Merantau ke Jakarta sendirian

William dan keluarganya tinggal di Pematang Siantar, Sumatera Barat. Saat lulus SMA, Bapaknya meminta Ia untuk melanjutkan kuliah di Ibu Kota.

Ia pun menurut dan berkuliah di Bina Nusantara University dengan jurusan Teknik Informasi. Saat merantau ke Jakarta, William akhirnya merasakan naik pesawat untuk pertama kali.

Ia pun harus hidup sendirian ketika berkuliah di Binus.

2. Menjadi Penjaga Warnet

Di tengah masa kuliahnya, Ayahnya jatuh sakit, sehingga tak bisa membiayai studinya. Akhirnya, William memutuskan untuk bekerja sebagai penjaga warung internet atau warnet.

Saat itu, internet masih barang langka dan bisnis warnet masih menjamur. Ia bekerja dari jam 9 malam hingga 9 pagi. Dilanjutkan berkuliah di siang hari.

Ketika menjadi penjaga warnet inilah, kecintaannya pada internet semakin muncul. Dengan akses internet 12 jam, Ia memanfaatkannya untuk mengulik segala hal yang berhubungan dengan internet.

3. Bekerja di Perusahaan Teknologi

Sebelum membangun startup William sempat bekerja di sejumlah perusahaan teknologi sejak tahun 2003 setelah lulus kuliah. Salah satunya adalah TelkomSigma dan Sqiva System. Ia juga pernah mengecam karir sebagai pengembang game di BolehNet.

Kemudian, Ia berpindah menjadi IT & Business Development Manager di Indocom Mediatama. Dari sinilah ide untuk membangun perusahaan berbasis internet muncul.

4. Membangun Tokopedia

Tahun 2007, Ia mengajak rekannya, Leontinus Alpha Edison, untuk membuat aplikasi tempat orang berjualan dan juga membeli barang. Saat itu, karena tak memiliki modal yang cukup, usaha mereka sempat mandeg.

Namun, hal tersebut tak mematahkan semangat William untuk terus meneruskan mimpinya membuat aplikasi e-commerce. Akhirnya, setelah 2 tahun mengembangkan semuanya, tahun 2009, Tokopedia resmi dikenalkan pada publik.

Lambat laun, dengan kegigihan dan strategi bisnis yang Ia punya, akhirnya pada tahun 2014, nama Tokopedia mula digaungkan ke seluruh negeri bahkan dunia.

Pengalaman Pahit William Tanuwidjaya Saat Dirikan Tokopedia

Membangun startup tentunya bukan hal yang mudah. Ini pula yang dirasakan William di awal perjalanannya merintis Tokopedia. Sejumlah pengalaman pahit mewarnai perjalanannya.

1. Tak Kunjung Dapat Investor

Saat Tokopedia baru dirilis, William mencoba menggaet investor lokal. Namun, usahanya tak berjalan mulus. Ia harus terus menelan pil pahit penolakan dari calon investor.

Penolakan dari para calon investor tersebut disebabkan oleh latar belakang keluarga William yang cukup pas-pasan. William juga bukan berasal dari universitas ternama dunia, sehingga banyak yang meremehkan kemampuannya.

2. Diremehkan karena Tak Lancar Bahasa Inggris

Tahun 2010, William berkesempatan untuk bertemu calon investor yang berasal dari Amerika Serikat yang berkunjung ke Jakarta.

Namun, ketika baru saja mempresentasikan usahanya selama 5 menit, Ia sudah langsung diusir, karena kemampuan Bahasa Inggrisnya yang terbata-bata.

3. Tidak Mendapat Pelamar Kerja

Untuk membesarkan perusahaan start-up nya, William mencoba mengikuti job expo untuk menggaet banyak pekerja.

Namun, saat itu, tak ada satu pun yang tertarik untuk bekerja bersama dirinya. Ia selalu ingat betapa Ia melihat perusahaan lain memiliki banyak antrean pelamar kerja, sedangkan di Tokopedia, tak ada satu pun yang berminat.

Titik Balik Kesuksesan

Perjalanan pahit yang William lalui, akhirnya berbuah manis pada tahun 2013. Saat itu, Ia diundang oleh SoftBank Korea yang berpusat di Jepang.

Ia juga diberikan waktu 5 menit untuk mempresentasikan bisnisnya. Nemun, berbeda dengan pengalaman pahitnya di Jakarta, kali ini investor tersebut memberikan lampu hijau untuk pendanaan Tokopedia.

Sehingga di tahun 2014, Tokopedia mendapat suntikan dana sebesar $100 Juta atau sekitar Rp 1,2 Triliun. Dari sinilah titik balik kesuksesan William dimulai.

Berbagai investor ternama muncul berdatangan menyokong dana untuk perusahaannya. Pada tahun 2017, Tokopedia mendapat dana dari Alibaba Group sebesar $1,1 Miliar atau setara dengan Rp 14,7 triliun.

Kesuksesan membangun startup Tokopedia juga membawa namanya mulai dikenal publik. Ia kerap kali mewakili Indonesia sebagai pembicara di berbagai forum internasional. Salah satunya pada tahun 2016, dirinya ditunjuk sebagai pembicara utama dalam Young Global Leader dalam World Economic Forum.

Itu dia sekelumit perjalanan sang pendiri Tokopedia dari nol hingga sekarang menjadi salah satu unicorn terbaik di Asia. Dengan pengalaman pahit yang dilaluinya, William membuktikan bahwa setiap kesuksesan bisnis tak ada yang instan dan tak selamanya berjalan mulus.

Diperlukan tekad yang kuat dan kerja yang optimal untuk terus mengembangkan bisnis. William juga membuktikan bahwa untuk menjadi pebisnis besar, tidak perlu berasal dengan modal yang besar pula.

Dari William juga kita belajar supaya terus berusaha di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Ia memang tak berasal dari keluarga kaya, namun semangat dan pemikirannya cukup kaya untuk mulai membangun startup dan membuatnya terus mengembangkan Tokopedia.

Anda yang ingin mencontoh perjalanan William Tanuwijaya juga harus memiliki semangat berjuang yang tinggi. Selain itu, terus belajar dan meningkatkan kualitas bisnis juga menjadi kunci utama.

Baca juga : Peluang Bisnis yang Menjanjikan di 2021

Untuk membantu meningkatkan kualitas dari segi promosi, A-Creative punya solusinya. Kami punya layanan dari mulai pembuatan website, design landing page, hingga pengelolaan media sosial. Semuanya, bisa kami lakukan demi membantu pengermbangan bisnis Anda.

Konsultasikan permasalahan marketing Anda secara gratis dan biarkan kami yang menyelesaikannya.

Anda juga bisa mengunjungi blog A-Creative untuk mendapat beragam pelajaran yang tentunya berguna untuk peningkatan bisnismu di dunia digital.

Need full marketing services Assistance?

Try our Digital Marketing Subscription Package

Subscribe weekly news

Get IDR 100.0000 discount just by subscribing to our newsletter

Tips foto produk

Tips Foto Produk yang Eye Catching

Meskipun berbelanja secara online memberi banyak kemudahan, namun akan sulit mereplikasi pengalaman berbelanja di toko fisik. Sejauh ini yang bisa dilakukan adalah terus meningkatkan pengalaman

Read More »
Follow our social media
Testimonials

Do you Need Digital marketing services Assistance?

Try our Digital Marketing Subscription Package

Special Promotion Start
From IDR 1500K

For all packages: Social Media Marketing, Search Engine Marketing, SEO & Online Advertising. 

We love writing great content and sharing industry insights. To get a copy of our research on latest trends, follow our social media and subscribe our newsletter.